Jumat, 03 Januari 2014

YANG MAHA MENGABULKAN DOA


Dan kepada Tsamud ( Kami utus ) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata : “ Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali – kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi ( tanah ) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, sesungguhnya Tuhanku amat dekat ( rahmat-Nya ) lagi memperkenankan ( doa hamba-Nya )” ( Q.S. Hud [ 11 ] ; 61 )

Bagaimanapun diri kita sebagai manusia memiliki banyak keterbatasan, bahkan lemah ( Q.S.4 : 28 ). Diri kita pun, hakikatnya adalah miskin ( Q.S 47 : 38 ), tidak memiliki apa – apa, baik secara lahiriyah maupun batiniyah, karenanya, sungguh sangat bergantung kepada Pemilik dari segala pemilik, yakni Allah Al Mujjib ( yang maha mengabulkan ).

Ya, Dialah yang mengabulkan doa kita pada saat tenggelam  dalam kesusahan, saat kita terhimpit suatu kesulitan ( Q.S 27 : 62 ), juga pada saat kita menghadapi bahaya yang mengancam. Namun sayangnya kita mudah lupa, lalai akan pertolongan yang telah Dia ulurkan pada diri kita.

Sungguh tidak semestinya, manakala kita dalam kesulitan atau sedang memiliki hajat tertentu begitu serius berdoa, sedangkan saat kesulitan itu telah berlalu, ternyata doa kita pun kemudian mengendor, bahkan doa ala kadarnya saja. Karennya bisa di fahami apabila Rasulullah SAW memerintahkan kita agar banyak berdoa di saat sedang dalam kondisi sejahtera dan senang ( tak cuma saat dalam kesulitan dan kesusahan saja ).

 “ Barangsiapa ingin agar doa di kabulkan oleh Allah di saat sedang sulit dan sdang menghadapi musibah, maka hendaklah ia banyak berdoa di waktu sedang sejahtera dan senang “ ( H.R Tarmidzi dari abu Hurairah )

Al Mujjib berakar pada kata ajaaba yang berarti menjawab. Sedangkan Al Mujiib adalah pelaku jawaban ( yang menjawab ). Sementara ulama mengartikan kata itu sebagai “ memotong “ yang mengisyaratkan memotong suatu permohonan dan menghentikannya dengan jalan memperkenankan atau mengabulkannya. Begitu pula memotong pertanyaan dengan jalan memberikan atas pertanyaan yang ada.

Kata Al Mujiib dicatumkan sekali dalam Al – Qur’an, yakni pada surah Hud [11] ayat 61 yang di kutip di atas.  

“ Dan apabila hamba – hamba Ku bertanya kepada mu tentang Aku, maka ( jawablah , bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada Ku, maka hendaklah mereka memenuhi  ( segala perintah-Ku ) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku , agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” ( Q.S. Al – Baqarah [ 2 ] : 186 ).

Itu adalah suatu penegasan mengenai syarat bagi orang berdoa, suatu syarat yang tidak ringan , tentunya. Namun jangan juga berkecil hati , apabila sebelum berdoa sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW, banyak memohon ampunan dan bertobat kepada-Nya.

Para nabi maupun orang – orang biasa sepanjang mengakui kesalahan ( kezhalimannya ), lalu memohon ampun dan bertaubat kepada Allah SWT, niscaya dikabulkan permohonanya ( 7:23, 28:16, 21:87, 3:147 )

Bersyukurlah manakala kita di beri kamampuan untuk menaati Allah SWT karena saat seseorang dalam kondisi taat kepada-Nya makan doanya makbul ( dikabulkan ) apakah ketaatan itu berupa shalat, puasa, haji, zakat, sedekah maupun perintah berbuat baik pada sesama ( Q.S 9 :99 ).

Doa menurut Rasulullah SAW, adalah mukhul ‘ibadah ( inti pengabdian ) kepada Allah SWT. Karenanya tidak perlu berkecil hati manakala doa kita belum dikabulkan. Jangan pernah bosan atau kecewa dalam berdoa kepada-Nya. Zakariya ‘alaisalam yang doanya di kabulkan sungguh kita teladani dalam hal berdoa. Ia berkata : “ ya tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepala ku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku.” ( Q.S Maryam [19] ; 4 )

Mari, tetaplah istiqomah dan optimistis dalam berdoa, dalam mengharap ampunan dan rahmat-Nya di sepanjang perjalan hidup kita di dunia yang singkat ini.

Bpk. Kusnadi 
dalam Forum Studi Islam Bali

Tidak ada komentar:

Posting Komentar