Dan kepada Tsamud ( Kami utus ) saudara mereka Shaleh. Shaleh
berkata : “ Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali – kali tidak ada bagimu Tuhan
selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi ( tanah ) dan menjadikan kamu
pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya,
sesungguhnya Tuhanku amat dekat ( rahmat-Nya ) lagi memperkenankan ( doa
hamba-Nya )” ( Q.S. Hud [ 11 ] ; 61 )
Bagaimanapun diri kita sebagai manusia memiliki banyak
keterbatasan, bahkan lemah ( Q.S.4 : 28 ). Diri kita pun, hakikatnya adalah
miskin ( Q.S 47 : 38 ), tidak memiliki apa – apa, baik secara lahiriyah maupun
batiniyah, karenanya, sungguh sangat bergantung kepada Pemilik dari segala
pemilik, yakni Allah Al Mujjib ( yang maha mengabulkan ).
Ya, Dialah yang mengabulkan doa kita pada saat tenggelam dalam kesusahan, saat kita terhimpit suatu
kesulitan ( Q.S 27 : 62 ), juga pada saat kita menghadapi bahaya yang mengancam.
Namun sayangnya kita mudah lupa, lalai akan pertolongan yang telah Dia ulurkan pada
diri kita.
Sungguh tidak semestinya, manakala kita dalam kesulitan atau
sedang memiliki hajat tertentu begitu serius berdoa, sedangkan saat kesulitan
itu telah berlalu, ternyata doa kita pun kemudian mengendor, bahkan doa ala
kadarnya saja. Karennya bisa di fahami apabila Rasulullah SAW memerintahkan
kita agar banyak berdoa di saat sedang dalam kondisi sejahtera dan senang ( tak cuma saat dalam kesulitan dan kesusahan saja ).
“ Barangsiapa ingin agar doa di
kabulkan oleh Allah di saat sedang sulit dan sdang menghadapi musibah, maka
hendaklah ia banyak berdoa di waktu sedang sejahtera dan senang “ ( H.R
Tarmidzi dari abu Hurairah )
Al Mujjib berakar pada kata ajaaba yang berarti menjawab. Sedangkan
Al Mujiib adalah pelaku jawaban ( yang menjawab ). Sementara ulama mengartikan
kata itu sebagai “ memotong “ yang mengisyaratkan memotong suatu permohonan dan
menghentikannya dengan jalan memperkenankan atau mengabulkannya. Begitu pula
memotong pertanyaan dengan jalan memberikan atas pertanyaan yang ada.
Kata Al Mujiib dicatumkan sekali dalam Al – Qur’an, yakni
pada surah Hud [11] ayat 61 yang di kutip di atas.
“ Dan apabila hamba – hamba Ku bertanya kepada mu tentang Aku,
maka ( jawablah , bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang
yang berdoa apabila ia memohon kepada Ku, maka hendaklah mereka memenuhi ( segala perintah-Ku ) dan hendaklah mereka
beriman kepada-Ku , agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” ( Q.S. Al –
Baqarah [ 2 ] : 186 ).
Itu adalah suatu penegasan mengenai syarat bagi orang
berdoa, suatu syarat yang tidak ringan , tentunya. Namun jangan juga berkecil
hati , apabila sebelum berdoa sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW,
banyak memohon ampunan dan bertobat kepada-Nya.
Para nabi maupun orang – orang biasa sepanjang mengakui
kesalahan ( kezhalimannya ), lalu memohon ampun dan bertaubat kepada Allah SWT,
niscaya dikabulkan permohonanya ( 7:23, 28:16, 21:87, 3:147 )
Bersyukurlah manakala kita di beri kamampuan untuk menaati
Allah SWT karena saat seseorang dalam kondisi taat kepada-Nya makan doanya
makbul ( dikabulkan ) apakah ketaatan itu berupa shalat, puasa, haji, zakat, sedekah maupun perintah berbuat baik pada sesama ( Q.S 9 :99 ).
Doa menurut Rasulullah SAW, adalah mukhul ‘ibadah ( inti
pengabdian ) kepada Allah SWT. Karenanya tidak perlu berkecil hati manakala doa
kita belum dikabulkan. Jangan pernah bosan atau kecewa dalam berdoa kepada-Nya.
Zakariya ‘alaisalam yang doanya di kabulkan sungguh kita teladani dalam hal
berdoa. Ia berkata : “ ya tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepala
ku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada
Engkau, ya Tuhanku.” ( Q.S Maryam [19] ; 4 )
Mari, tetaplah istiqomah dan optimistis dalam berdoa, dalam
mengharap ampunan dan rahmat-Nya di sepanjang perjalan hidup kita di dunia yang
singkat ini.
Bpk. Kusnadi
dalam Forum Studi Islam Bali
Tidak ada komentar:
Posting Komentar