“ Ya tuhan kami, rahmat dan ilmu engkau meliputi segala
sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang – orang yang bertaubat dan mengikuti
jalan Engkau dan periharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala – nyala. “
( Q.S Al – Muk’min [40] : 7 )
Keluasan rahmat-Nya kepada seluruh mahluk-Nya sungguh tidak
terbatas. Begitupun keluasan dan keragaman nikmat-Nya yang dianugrahkan kepada
diri kita, jelas tak terbilang dan kita pun tidak akan mungkin mampu menghitungnya
( Q.S. 14 : 34 )
Mari kita renungkan, betapa banyak nikmat-Nya yang telah
dianugrahkan kepada diri kita, nikamat lahiriyah maupun ruhaniyah. Pada saat
kita mencoba mengulang – ngulang dalam mengingat nikmat-nikmat-Nya yang
sedemikian luas itu boleh jadi kita belum
atau tidak “sempat” memikirkan salah satu nikmat-Nya yang spesifik, yaitu nikmat berupa pencegahan dalam wujud
tercegahnya berbagai mara bahaya yang mengacam diri kita, baik bahaya yang
bersifat lahiriyah maupun ruhaniyah.
Nikmat yang di anugrahkan oleh Allah SWT bagi diri kita,
menurut Al-khusyiri dalam bukunya Makna
Tersembunyi Di Balik Nama- Nama Indah ( asma ul Husna ), adalah berupa
nikmat manfaat dan nikmat pencegahan. “nikmat
pencegahan adalah nikamt yang samar, pengetahuan kita mengenai hal ini sangat
sedikit, “ tulisnya
Allah Al-waasi’, memang sedemikian luas karunia-Nya, bahkan
dalam kadar yang akal kita, kita tidak mampu membayangkan saking luasnya. Di dalam
Al-Qur’an, kata Al-Waasi’ dengan beragam “pecahan” kata itu disebut sembilan kali. Ada yang terkait
dengan keluasan kekusaan-Nya ( Q.S 2 : 255 ), keluasan rahmat-Nya yang meliputi
segala sesuatu ( Q.S 2 : 261 ), hingga keluasan kekuatan ( energi
) –Nya yang terus memperluas peta langit di jagat raya ini ( Q.S 51 : 47 ).
Ihwal keluasan ampunan-Nya, tentu tidak usah diragukan lagi,
karena Dia-lah pengampun semua dosa apa pun jenis dosa itu dan seberapa banyak
pun. Katakanlah : “ hai hamba – hamba-Ku
yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa
dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa – dosa semuanya. Sesungguhnya
Dia-lah Yang Maha Pengampun lahi Maha Penyayang. “ ( Q.S Az – Zumar [39];53
).
Keluasan ampunan-Nya ditegaskan pula dalam sebuah hadist
Qudsi : “ wahai bani adam ! apabila
engkau mengajukan permohonan dan mengharap kepada-Ku, maka Ku – ampuni segala
yang ada padamu. Wahai bani adam ! sekali pun dosa mu bertumpuk – tumpuk hingga
setinggi langit, kemudian engkau meminta ampun kepada Ku, niscaya Ku ampuni
dosa mu. Wahai bani adam ! sekiranya engkau datang dengan dosa sepenuh bumi,
kemudian engkau menemui Aku dalam keadaan tidak mempersekutukan Aku dengan
sesuatu apa pun, niscaya Ku karuniakan ampunan sepenuh bumi pula. ( H.Q
Riwayat Tharmidzi yang bersumber dari Anas r.a ).
Itulah Dia yang menyebutk dirinya Al-Waasi’, termasuk dalam
hal pengampunan-Nya kepada para hamba-Nya. “(yaitu, bagi ) orang – orang yang
menjauhi dosa – dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari
kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnyaa Tuhan mu waasi’ul maghfirah ( maha
luas ampunan-Nya ). Dan Dia lebih mengetahui ( tentang keadaan ) mu ketika Dia
menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu ; maka
janganlah kamu mengatakan diri mu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang
orang – orang bertakwa.” ( Q.S an-Najm [53] : 32 )
Kata Al-Waasi’ yang terdiri dari tiga huruf, wauw, sin, dan ain, menurut pakar bahasa maknanya mangacu pada arti luas, keluasan
dan kemudahan. Asma-Nya Al-waasi’ dalam Al-Qur’an sering dirangkai dengan asma-Nya
Al-Aliim ( Maha Mengetahui ), selain diiringkan dengan kata rahmat ( Kasih Sayang-Nya ). Maka bagi yang ingin
meneladani Allah Al-Waasi’, sudah semestinya memperluas ( melapangkan ) dadanya
dalam menghadapi berbagai peristiwa dalam hidup ini, khusunya dalam merespon
kesalahan orang kepada dirinya, maupun dalam menghadapi sesuatu yang tidak
sesuai dengan keiinginan maupun fahamnya.
Tentu perlu pula mempeluas wawasan dengan banyak melakukan
aktivitas menuntut ilmu. Yang juga tidak kalah pentingnya adalah usaha-usaha
serius untuk memperluas jenis dan jangkauannya dalam hal menebar kasih sayang pada kehidupan di dunia
yang sementara ini.
disampaikan : Bpk. Kusnadi
dalam forum studi islam bali ( FOSIBA )
9 januari 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar