Jumat, 17 Januari 2014

DAN, SEMESTA PUN KEHILANGAN PELITANYA


Ketika Al – Musthafa berada di hadapan,kupandangi pesonanya dari ujung kaki hingga kepala, tahukah kalian apa yang terjelma ? CINTA !  ( Abu Bakar ra )

Nabi demam kembali, kini panas semakin tinggi, lemah ia berbaring, menghadapkan wajah pada Fatimah anak kesayangan. Sudah beberapa hari terakhir, kesehatannya tidak lagi menawan. Senin itu, kediaman manusia paripurna di datangi seorang berkebangsaan arab dengan wajah rupawan. Di depan pintu, ia mengucapkan salam “Assalamu’alaikum duhai keluarga nabi dan sumber kerasulan, bolehkah saya menjumpai kekasih Allah ?”. fatimah yang sedang mengurusi ayahnya, tegak berdiri dibelakang pintu “ wahai abdullah, rasulullah sedang sibuk dengan dirinya sendiri”. Fatimah berharap tamu itu mengerti dan pergi, namun suara asing kembali mengucapkan salam yang pertama.

” Alaikumsalam, hai hamba Allah” kali ini Nabi yang menjawabnya
“Anaku sayang, tahukah engkau siapa yang kini sedang berada di luar ?”
“Tidak tahu ayah, bulu kuduku meremang mendengar suaranya”
“sayang, dengar baik – baik, di luar itu adalah dia, pemusnah kesenangan dunia, pemutus nafas di raga dan penambah ramai para ahli kubur”. Jawaban terakhir nabi membuat Fatimah jatuh terduduk. Fatimah menangis seperti anak kecil.

“ayah, kapan lagi aku mendengar dirimu bertutur, harus bagaimana aku menuntaskan kerinduan kasih sayang engkau, tak akan lagi aku memandang wajah kesayangan ayahanda” pedih Fatimah.

Nabi tersenyum, lirih ia memanggil “sayang mendekatlah, kemarikan pendengaran mu sebentar”. Fatimah menurut, dan Kekasih Allah itu berbisik mesra di telinga anaknya, “Engkau adalah keluarga ku yang pertama kali menyusul sebentar kemudian”. Seketika wajah Fatimah tidak lagi pasi tapi bersinar.

Lalu kemudian, Fatimah mempersilahkan tamu itu masuk. Malaikat pencabut nyawa yang berparas jelita itu pun kini berada si samping Muhammad.
“Assalamulaikum ya utusan allah” dengan takzim sang malaikat memberi salam
“Salam sejahtera juga untuk mu pelaksana perintah Allah, apakah tugas mu saat ini, berziarah atau mencabut nyawa si lemah ?” tanya nabi. Angin berhembuh dingin.
“Aku datang untuk keduanya, berziarah dan mencabut nyawa mu , itupun setelah engkau perkenankan, jika tidak Allah memerintahkan ku kembali”
“Dimanakah engkau tinggalkan jibril ? duhai izrail ?”
“ia kutinggalkan di atas langit dunia”
Tak lama kemudian, Jibril pun datang dan memberikan salam kepada seseorang yang juga dicintainya karena Allah.
“Ya jibril, gembirakanlah aku saat ini” pinta Al-Mustahafa
Terdengar jibril bersuara pelan di dekat telinga sang manusia pilihan, “sesungguhnya pintu langit telah di buka, dan para malaikat telah berbaris menuggu sebuah kedatangan, bahkan pintu – pintu surga juga telah di lapangkan hingga terlihat para bidadari yang telah berhias menyongsong kehadiran yang paling di tunggu – tunggu

“Alhamdulillah, betapa Allah maha penyayang” sendu nabi, wajahnya masih pucat pasi.
“dan jibril, masukkan kesenangan dalam hati ini, bagaimana keadaan umatku nanti ?”.
“Aku beri engkau sebuah kabar Akbar, Allah telah berfirman, “ sesungguhnya Aku, telah mengharamkan surga bagi semua nabi, sebelum engkau memasuki nya pertama kali, dan Allah mengharamkan pula sekalian umat manusia sebelum pengikutmu yang telah memasukinya pertama kali” jawab jibril itu sungguh berpengaruh. Maha Suci Allah, wajah Nabi dilingkupi oleh cahaya. Nabi tersenyum gembira. Betapa ia tidak seperti sakit lagi. Dan ia pun menyuruh malaikat izrail mendekat dan menjalankan amanah Allah.

Izrail menjalankan tugasnya.perlahan anggota tubuh sang pembawa cahaya kepada dunia satu per satu tidak bergerak lagi. Nafas manusia pembawa berita gembira itu semakin berhembus jarang. Pandangan manusia pemberi peringatan itu kian sunyi. Hingga ketika ruhnya telah berada di pusat dan dalam genggaman Izrail, Nabi sempat bertutur, “Alangkahnya beratnya penderitaan maut”. Jibril berpaling tak sanggup memadangani sosok yang selalu ia dampingi di segala situasi.

“Apakah engkau membeci ku Jibril?”
“Siapakah yang sampai hati melihat mu dalam keadaan sekarat ini, duhai cinta, “ jawabnya sendu.
Sebelum segala tentang manusia terindah ini menjadi kenangan, dari bibir manis itu terdengar panggilan perlahan : “ummatku.....ummatku.....”. dan ia pun dengan sempurna kembali. Nabi Muhammad saw, pergi dengan tersenyum. Pada hari senin 12 Rabi’ul awwal, ketika matahari telah tergelincir , dalam usia 63 tahun.

Gemilang cahaya kepada dunia, Muhammad, pemberi peringatan kepada semua manusia.menorehkan dalam - dalam tinta keikhlasan di lembaran sejarah. Muhammad yang bersumpah dengan banyak panorama indah alam ; “ demi siang dengan membawa  benderang cahaya, demi malam ketika telah mengembang, demi matahari sepenggalah naik”, telah membumbungkan islam kepada cakrawala megah di angkasa sana. Ia, Muhammad, menembus setiap gendang telinga sahabatnya dengan banyak kuntum – kuntum sabda pengarah dalam menjalani kehidupan. Ia, Muhammad, yang di sanjung semua malaikat  di setiap tingkatan langit, berbicara tentang surga, sebagai tebusan utama, bagi setiap amalan yang di kerjakan. Ia , Muhammad yang selalu menyayangi fakir miskin dan anak yatim, menggelorakan perintah untuk senantiasa memperhatikan manusia lain yang berkekurangan. Dan Ia, Muhammad, tak akan pernah kembali lagi.

Sungguh, Madinah berubah kelabu. Banyak manusia terlunta di sana.
Dan Aisyah ra, yang pangkuannya manjadi tempat singgah kepala Rasulullah di saat terakhir kehidupannya, menyenandungkan syair kenangan untuk sang penerang, suaranya bening. Syahdu membumbung jauh ke angkasa. Beginilah Aisyah menyanjung sang Nabi yang telah pergi;

Wahai manusia yang tidak pernah sekalipun mengenakan sutera
yang tidak pernah sejeda pun membaringkan raga pada empuknya tilam
wahai kekasih yang kini telah meninggalkan dunia
ku tahu perutmu tak pernah kenyang dengan pulut lembut roti gandum
duhai, yan lebih memilih tikar sebagai alas pembaringan
duhai, yang tidak pernah terlelap sepanjang malam karena takut sentuhan neraka Sa’ir

Dan Umar ra yang paling dekat dengan musuh di setiap medan jihad itu, kini menghunus pedang. Pedang itu menurutnya di peruntukan untuk setiap mulut yang berani menyebut kekasih kesayangannya kembali kepada Allah. Umar tatap wajah – wajah para sahabatnya itu setajam mata pedangnya, menyakinkan mereka bahwa Umar sungguh – sungguh. Umar terguncang. Umat bersumpah. Umar berteriak lantang. Umar menjadi sedemikian.

Dan Abu Bakar, sahabat yang paling lembut hatinya, melangkah pelan menuju jasad manusia pilihan. Langkahnya berjinjit, khawatir kan menganggu seseorang yang tidur berkekalan, pandangannya lurus pada sesosok cinta yang di kasihinya sejak pertama berjumpa. Raga berparas rembulan itu kini tertutup kain selubung. Abu Bakar hampir pingsan. Nafasnya berhenti berhembus, tertahan. Sekuat tenaga, ia bersimpuh di depan jasad wangi Al –Musthafa. Ingin sekali membuka penutup wajah yang di sayangi arakan awan, disanjung hembusan angin dan dielu – elukan kerlip gemintang, namun tangannya selalu saja gemetar. Lama Abu Bakar termenung di depan jenazah pembawa berkah. Akhirnya, demi kayakinanya kepada Allah, demi matahari yang masih akan terbit, demi mendengar rintihan pedih ummat di luar, Abu Bakar mengais sisa – sisa keberanian. Jemarinya perlahan mendekati penutup tubuh suci Rasulullah, dan di jumpailah, wajah yang tak pernah menjemukan itu. Abu Bakar memesrai Nabi dengan mengecup kening indahnya. Hampir tak terdengar ia berucap “ demi ayah dan bunda, indah nian hidup mu, dan indah pula kematian mu. Kekasih, engkau memang telah pergi “. Abu Bakar menunduk. Abu Bakar mematung. Abu Bakar berdoa di depan tubuh Nabi yang telah sunyi.

Dan bilal bin rabah, yang suaranya selalu memenuhi udara madinah dengan lantunan adzan itu, tak lagi mampu berseru di ketinggian menara masjid. Suaranya selalu hilang pada saat akan menyebut nama kekasih ‘muhammad’. Di dekat angkasa, seruannya berubah pekik tangisan. Tak jauh dari langit, suaranya menjelma isak pedih yang tak henti. Setiap berdiri kukuh untuk mengumandangkan adzan, bayangan purnama madinah selalu saja jelas tergambar. Tiap ingin menyeru manusia untuk menjumpai Allah, lidahnya hanya mampu berucap lembut, “ Aku mencintai mu duhai Muhammad, Aku merindukan mu kekasih”. Bilal, budak hitam yang kerap di sanjung nabi karena suara merdunya, kini hanya mampu mengenang  Sang kekasih sambil  menatap bola raksasa pergi ke kaki langit.

Dan, terlau banyak cinta yang menderas di setiap jengkal lembah madinah. Yang tak akan bisa pernah bisa di ungkapkan. SEMESTA MENAGIS.

Sahabat, sang penerang telah pergi menemui yang Maha Tinggi. Purnama madinah telah kembali, menjumpai kekasih yang merindui. Dan semesta, kehilangan pelita terindahnya. Kita mengenangmu ya Rasulullah, meski hanya dengan sesetitik tinta pena. Kita mengingatimu duhai pembawa cahaya dunia, meski hanya dengan selaksa kata. Dan saya meminjam untaian indah peredam gemuruh dada, yang di lafadzkan Hasan Bin Tsabit, salah seorang sahabat penyair dari masa mu.

Engkau adalah kedua biji mata ini
Dengan kepergian mu yang anggun
Aku seketika menjelma menjadi seorang yang buta
Yang tak perkasa lagi melihat cahaya
Siapapun yang ingin mati pengikutimu
Biarlah ia pergi menemui ajalnya
Dan aku,
Hanya risau dan haru dengan kepergian terindah mu


Sahabat, kenanglah Nabi Muhammad Saw, meski dalam kelengangan yang sempurna, agar hal ini menjadi obat ajaib, penawar dan penyembuh kegersangan hati yang kerap berkunjung. Agar, di akhirat kelak, dengan agung nabi memanggil semua manusia yang senantiasa merindukan dan mencintainya. Adakah yang paling mempesona di hadapanmu, ketika suara suci Nabi menyapamu anggun, menjumpaimu dengan paras yang tak pernah kau mampu bayangkan sebelumnya. Adakah di dunia ini yang paling membahagiakan ke dalam hati mu, ketika sosok yang paling kau cintai sepenuh jiwa dan raga, berada nyata di dekat mu dan menemui dengan senyuman yang paling manis menembusi relung kalbu. Dan adakah di dunia yang paling menerbangkan perasaanmu ke angkasa ketika jemari kekasih menggapaimu untuk memberikan naungan perlindungan dari siksa pedih azab neraka.
Adakah sahabat ?
Jika saat ini ada yang bening di kedua sudut matanya, berbahagialah, karena mudah – mudahan ini sebuah pertanda. Pertanda cinta tak bermuara. Dan ketika kau tak dapati air mata saat ini, kau sungguh mampu menyimpan cinta itu di dasar hati mu.

Mari bersama bergenggaman, saling mengingatkan, saling memberikan kindahan ukhuwah yang telah rasulullah tercinta ajarkan. Mari Sahabat !

KEPADASEMUA SAHABAT YANG MERINDUKAN Al – Musthafa.


( yang menulis di blog ini bukanlah penulis sebenarya, saya dapati tulisan ini di arsip saya tanpa ingat tahu siapa yang memberi. Dan di kertas itupun tidak tercantum siapa penulisnya. Bagi siapa pun orangnya, yang pasti hatinya sangat lembut karna dapat mengungkapkan kerinduan dan kecintaan yang mendalam kepada “sang pelita kehidupan” hanya dengan goresan tinta tapi mampu menggetarkarkan sanubari yang membaca. Semoga rahmat selalu menaungi mu wahai perindu Rasulullah. )


Tidak ada komentar:

Posting Komentar