“ dan tidaklah ( pula ) sama orang – orang yang hidup dan
orang – orang yang mati. Sesungguhnya Allah memberikan pendengaran kepada orang
yang di kehendaki-Nya dan kamu sekali – kali tidak sanggup menjadikan orang
yang di dalam kubur dapat mendengar. Kamu tidak lain hanya seorang pemberi
peringatan.” ( Q.S Faathir [35] 20-23 )
Berbicara tentang penyakit, biasanya bayangan kita langsung
tertuju kepada penyakit – penyakit fisik semata, seperti flu, batuk, kanker,
AIDS, gagal ginjal, migran, vertigo, dan seterusnya.
Boleh jadi kita lupa bahwa ada penyakit yang jauh lebih
dasyat dampak buruknya, yaitu penyakit ruhani, yang bisa mengantarkan seseorang
pada kesengsaraan dan penderitaan hidup di dunia, maupun penderitaan berkepanjangan
di akhirat.
Di antara penyakit ruhani yang sungguh sangat berbahaya
adalah “ merasa cukup”, yakni merasa cukup pintar, cukup alim, cukup hebat,
cukup shaleh, cukup bergengsi, yang kesemuanya dapat mengantarkan seseorang
enggan belajar, khususnya enggan memperlajari ayat – ayat-Nya.
“ ketahuilah ! sesungguhnya manusia itu benar – benar
melampui batas, karena ia melihat dirinya serba cukup. Sesungguhnya hanya
kepada Tuhanmulah kembalimu ( Q.S Al – Alaq [ 96] : 6-8 )
Begitu kita di kembalikan kepada Allah melalui peristiwa
kematian, yang pasti kita alami itu, saat – saat malaikat maut mencabut nyawa
kita, sebenarnya apa yang bisa kita banggakan ? merasa telah cukup berilmu ?
cukup banyak amal sholeh, merasa cukup hebat ? kebanggaan dan kesombongan macam
apa yang kita tonjolkan ?
“ sekali kali jangan, apabila nafas ( seseorang ) telah (
mendesak ) sampai kerongkongan, dan dikatakan kepadanya : “ siapakah yang dapat
menyembuhkan ? “, dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan ( dengan
dunia), dan bertautlah betis ( kiri ) dan betis ( kanan, karena menahan
hebatnya rasa sakit saat sakaratul maut), kepada Tuhanmulah kamu pada hari itu
di halau ( dikembalikan )”. ( Q.S. al – Qiyamah [75];26-30).
Tidak ada ! Tidak ada yang layak kita bangga – banggakan
pada saat seperti itu. Yang muncul justru penyesalan – penyesalan karna
kelalaian diri dalam menaati perintah Allah SWT agar men-tadaburi ( mempelajari ) dan mengamalkan ayat –
ayat-Nya.
Mulai terbayangkah di benak kita betapa dasyatnya penyakit
ruhani “ merasa cukup “ itu ? wujudnya adalah enggan, tidak sudi mempelajari (
diantaranya dengan mengingat /menghafal ) ayat – ayat-Nya. Hal ini disebabkan
matinya hati.
“ dan tidak ( pula ) sama
orang-orang yang hidup dan orang-orang mati. Sesungguhnya Allah memberikan
pendengaran kepada orang – orang yang di kehendaki-Nya dan kamu sekali – sekali
tidak sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar. Kamu tidak
lain hanya seorang pemberi peringatan. ( Q.S Faathir [35] 20-23 )
Para mufasy-syrin ( pakar tafsir ) menjelaskan bahwa yang
dimaksud orang yang di dalam kubur adalah musyrikin mekah yang mati hatinya.
Mereka yang mati hatinya itulah yang diancam azab pedih.
“ dalam hati mereka ada
panyakit, lalu ditambah oleh Allah penyakitnya , dan bagi mereka siksa yang
pedih, disebkan mereka berdusta”.( Q.S al – Baqarah [2] :10 ).
Ya, berdusta. Mengaku mengimani Al-qur’an tapi tidak sudi
mempelajari dan mengamalkanya. Penyakit “merasa cukup” itulah yang menghalangi
dirinya untuk balajar, ditambah kecintaan terhadap dunia yang berlebihan, plus
provokasi setan yang berusaha matian – matian menggagalkan seseorang yang ingin
menaati Allah SWT, maka “lengkap” sudah kematian Hatinya.
Al – Qur’an, hakikatnya adalah obat bagi penyakit – penyakit
hati ( Q.S 10 : 57 ), suatu penyakit yang bisa sangat berbahaya , yang
menyebabkan seseorang mengalami penderitaan tak berkesudahan di akhirat kelak.
Tidak ada cara lain untuk mengenyahkan penyakit – penyakit
yang ada dalam hati kita, kecuali dengan terus mempelajari dan terus pula
berusaha mengamalkan Al – Qur’an.
Betapapun usaha meraih kesehatan ruhani jasmani yang prima,
adalah usaha terus – menerus sepanjang hidup kita di duni ini. Memang suatu
kendala bisa saja menghadang kita. Namun tetaplah berusaha dengan sungguh –
sungguh. Semoga kita dapat melakukan dengan istiqomah. ( amin )
Bpk. Kusnadi ( forum studi islam bali )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar