Jumat, 27 Desember 2013

"MERASA CUKUP", SUNGGUH PENYAKIT YANG SANGAT BERBAHAYA !!!!


“ dan tidaklah ( pula ) sama orang – orang yang hidup dan orang – orang yang mati. Sesungguhnya Allah memberikan pendengaran kepada orang yang di kehendaki-Nya dan kamu sekali – kali tidak sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar. Kamu tidak lain hanya seorang pemberi peringatan.” ( Q.S Faathir [35] 20-23 )


Berbicara tentang penyakit, biasanya bayangan kita langsung tertuju kepada penyakit – penyakit fisik semata, seperti flu, batuk, kanker, AIDS, gagal ginjal, migran, vertigo, dan seterusnya.

Boleh jadi kita lupa bahwa ada penyakit yang jauh lebih dasyat dampak buruknya, yaitu penyakit ruhani, yang bisa mengantarkan seseorang pada kesengsaraan dan penderitaan hidup di dunia, maupun penderitaan berkepanjangan di akhirat.

Di antara penyakit ruhani yang sungguh sangat berbahaya adalah “ merasa cukup”, yakni merasa cukup pintar, cukup alim, cukup hebat, cukup shaleh, cukup bergengsi, yang kesemuanya dapat mengantarkan seseorang enggan belajar, khususnya enggan memperlajari ayat – ayat-Nya.

“ ketahuilah ! sesungguhnya manusia itu benar – benar melampui batas, karena ia melihat dirinya serba cukup. Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembalimu ( Q.S Al – Alaq [ 96] : 6-8 )

Begitu kita di kembalikan kepada Allah melalui peristiwa kematian, yang pasti kita alami itu, saat – saat malaikat maut mencabut nyawa kita, sebenarnya apa yang bisa kita banggakan ? merasa telah cukup berilmu ? cukup banyak amal sholeh, merasa cukup hebat ? kebanggaan dan kesombongan macam apa yang kita tonjolkan ?

“ sekali kali jangan, apabila nafas ( seseorang ) telah ( mendesak ) sampai kerongkongan, dan dikatakan kepadanya : “ siapakah yang dapat menyembuhkan ? “, dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan ( dengan dunia), dan bertautlah betis ( kiri ) dan betis ( kanan, karena menahan hebatnya rasa sakit saat sakaratul maut), kepada Tuhanmulah kamu pada hari itu di halau ( dikembalikan )”. ( Q.S. al – Qiyamah [75];26-30).

Tidak ada ! Tidak ada yang layak kita bangga – banggakan pada saat seperti itu. Yang muncul justru penyesalan – penyesalan karna kelalaian diri dalam menaati perintah Allah SWT agar men-tadaburi   ( mempelajari ) dan mengamalkan ayat – ayat-Nya.

Mulai terbayangkah di benak kita betapa dasyatnya penyakit ruhani “ merasa cukup “ itu ? wujudnya adalah enggan, tidak sudi mempelajari ( diantaranya dengan mengingat /menghafal ) ayat – ayat-Nya. Hal ini disebabkan matinya hati. 

 “  dan tidak ( pula ) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang mati. Sesungguhnya Allah memberikan pendengaran kepada orang – orang yang di kehendaki-Nya dan kamu sekali – sekali tidak sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar. Kamu tidak lain hanya seorang pemberi peringatan. ( Q.S Faathir [35] 20-23 )

Para mufasy-syrin ( pakar tafsir ) menjelaskan bahwa yang dimaksud orang yang di dalam kubur adalah musyrikin mekah yang mati hatinya. Mereka yang mati hatinya itulah yang diancam azab pedih.

 “ dalam hati mereka ada panyakit, lalu ditambah oleh Allah penyakitnya , dan bagi mereka siksa yang pedih, disebkan mereka berdusta”.( Q.S al – Baqarah [2] :10 ).

Ya, berdusta. Mengaku mengimani Al-qur’an tapi tidak sudi mempelajari dan mengamalkanya. Penyakit “merasa cukup” itulah yang menghalangi dirinya untuk balajar, ditambah kecintaan terhadap dunia yang berlebihan, plus provokasi setan yang berusaha matian – matian menggagalkan seseorang yang ingin menaati Allah SWT, maka “lengkap” sudah kematian Hatinya.

Al – Qur’an, hakikatnya adalah obat bagi penyakit – penyakit hati ( Q.S 10 : 57 ), suatu penyakit yang bisa sangat berbahaya , yang menyebabkan seseorang mengalami penderitaan tak berkesudahan di akhirat kelak.
Tidak ada cara lain untuk mengenyahkan penyakit – penyakit yang ada dalam hati kita, kecuali dengan terus mempelajari dan terus pula berusaha mengamalkan Al – Qur’an.

Betapapun usaha meraih kesehatan ruhani jasmani yang prima, adalah usaha terus – menerus sepanjang hidup kita di duni ini. Memang suatu kendala bisa saja menghadang kita. Namun tetaplah berusaha dengan sungguh – sungguh. Semoga kita dapat melakukan dengan istiqomah. ( amin )

Bpk. Kusnadi ( forum studi islam bali )